Arifah
Rizqi Ramadhani
Teori Sosiologi Modern A
Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Panggung Sandiwara Dalam Konsep Dramaturgi Erving Goffman
Di sosiologi, banyak sekali tokoh-tokoh yang berpengaruh dan memiliki hasil teori atau pemikiran yang sangat luar biasa hebat. Teori tersebut tercipta karena sebuah pemikiran yang dalam- yang dilakukan oleh tokoh yang bersangkutan; atau merupakan ungkapan kritik yang dilakukan tokoh tersebut untuk pemikiran tokoh terdahulu. Yang pasti- para tokoh akan terus berlomba untuk memberikan hasil pemikiran versi terbaik mereka dengan perspektif versi mereka sendiri. Sama halnya dengan Erving Goffman yang mengembangkan konsep dramatisme milik Kenneth Duva Burke (1897-1993).
Goffman
merupakan seorang tokoh sosiolog, psikolog sosial, serta penulis aliran Chicago
dan disebut sebagai teoritisi interaksionisme simbolik modern- walau ia sendiri
enggan menyebut karyanya masuk kedalam kategori tunggal manapun karena Goffman
memang menggunakan banyak sumber; salah satu hasil pemikiran intelektualnya
bercorak antropologi sosial. Goffman lahir pada tanggal 11 Juni 1922 di Alberta,
Kanada dan wafat pada tahun 1982- yang saat itu merupakan puncak kepopulerannya.
Ia meninggal dikarenakan penyakit kanker yang dideritanya. 
(greelane.com)
Latar belakang pemikiran Goffman berawal dari studi deskriptif yang dilakukannya di Chicago, serta konsep “I dan Me” dari gagasan George Herbert Mead. Goffman banyak mengkaji studi tentang sosiologi di kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial yang dibahas dalam karyanya yang berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life” tahun 1955- yang kemudian melahirkan konsep Dramaturgi. Saya mengenal konsep Dramaturgi dari buku karya George Ritzer yang berjudul “Sociological Theory”. Dalam buku tersebut menjelaskan konsep dramaturgi sebagai panggung sandiwara atau suatu pandangan tentang kehidupan sosial sebagai rangkaian pertunjukan dramatis yang mirip dengan yang dilakukan di atas panggung. Dramatugis memandang manusia sebagai aktor yang sedang memainkan perannya. Interaksi sosial yang dilakukan masyarakat menimbulkan adanya sebuah pesan yang diharapkan dapat tersampaikan maksudnya. Interaksi dari kehidupan sosial dan penyampaian pesan yang diharapkan dapat tersampaikan maksud dan tujuannya itulah yang disebut sebagai pertunjukkan. Goffman membagi kehidupan sosial menjadi dua bagian, yaitu panggung depan “front stage” dan panggung belakang “back stage”. Dalam front stage akan ada penonton yang melihat pertunjukkan yang sedang dimainkan oleh seorang aktor. Dan seorang aktor atau pelaku drama harus dapat memainkan peran dengan sebaik-baiknya (totalitas) agar tujuan dapat tersampaikan. Sedangkan dalam back stage adalah keadaan belakang panggung tanpa penonton- yang dapat menampilkan watak seorang aktor yang sesungguhnya. Tanpa peran dan tanpa alur cerita yang dimainkan.
Menurut pendapat saya, konsep dramaturgi ini seperti sebuah manipulasi peran di atas panggung sandiwara. Ada satu kutipan milik Erving Goffman yang menjadi favorit saya- yang mengatakan: “We are all just actors trying to control and manage our public image, we act based on how others might see us.” (Goffman, 1959).
Singkatnya, kita (manusia) adalah aktor dari dunia nyata yang sedang memainkan peran dengan sangat apik. Pada saat di atas panggung atau saat melakukan pertunjukan- ketika kamera mulai menyala, para penonton mulai berkumpul, kita akan menjaga, mengontrol, dan mengelola image kita sebaik mungkin. Di dunia nyata, manusia dan mata jelinya ibarat penonton dan kamera. Dengan begitu, penonton hanya akan melihat sisi yang ingin kita tunjukkan dan perankan tanpa tahu menahu apakah yang kita perankan itu watak asli kita atau hanya topeng belaka- suatu kebohongan. Pada saat di belakang panggunglah, ketika kamera mati dan para penonton pergi, kita yang menjadi seorang aktor dapat melepas topeng yang kita kenakan dan akan menunjukkan sisi “the real me”- bagaimana kita yang sebenar-benarnya.
Dikehidupan sehari-hari, kita sebagai aktor biasanya cenderung mengikuti standar masyarakat sekitar kita seperti halnya pada saat kita kumpul dengan teman geng kampus. Sebagai contoh, teman geng kampus saya adalah anak orang kaya yang hedon- tongkrongan sehari-harinya di mall, café, dan tempat-tempat ‘elite’ lainnya. Pakaian atau sesuatu yang mereka kenakan juga bagus dan cantik. Tak ketinggalan juga, make up on point!
Sedangkan saya, sehari-harinya makan diangkringan, yang sekali makan tak lebih menghabiskan sepuluh ribu rupiah. Ketika dirumah atau bersama teman kontrakan, saya akan berdandan ala kadarnya dan tanpa jaga image- tapi pada saat berkumpul dengan teman geng kampus saya, saya akan berubah mengikuti standar gaya hidup dan penampilan mereka. Dengan memakai pakaian yang bagus dan cantik, bermake-up, dan ikut nongkrong di mall atau café. Hal ini saya lakukan tak lain agar status sosial saya terlihat sama seperti mereka- atau sesuai ‘standar’ mereka. Hal yang saya lakukan itulah cara saya mempresentasikan diri saya kepada orang lain (penonton yang melihat saya) agar makna dan pesan tujuan yang ingin saya sampaikan dapat tersampaikan dengan baik. Dari contoh diatas, apa yang saya lakukan ini hanyalah kamuflase-manipulatif yang merupakan bagian dari konsep dramaturgi milik Erving Goffman.
Contoh lainnya yaitu kehidupan dua sisi seseorang di media sosial dan dunia nyata. Dalam postingan di media sosial seseorang bisa tampak bahagia, cantik dan tampan- atau apapun yang memperlihatkan bahwa hidupnya ‘baik-baik saja’ dan ‘sempurna’ tanpa beban. Padahal jika ditilik di kehidupan nyata, belum tentu sesuai dengan postingan di media sosial. Di media sosial, semua bisa dimanipulasi- pun dengan kehidupan nyata. Karena manusia adalah aktor terbaik yang dapat berperan dalam pertunjukkan dengan sangat apik- seperti aktor di panggung sandiwara dalam konsep dramaturgi.
“What you see isn’t always the truth. Don’t trust your eyes, don’t trust your ears. Because they… sometimes tell you lies.”
-unknown-
Referensi
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. George Square, Edinburgh: Monograph
Musta’in. (2010). Teori Diri: Sebuah Tafsir Makna Simbolik (Pendekatan Teori Dramaturgi Erving Goffman). Jurnal Dakwah dan Komunikasi KOMUNIKA, 4(2), 269-283.
Ritzer, G. (2011). Sociological Theory (8th ed). Americas, New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
Sari, Delya Afrida. (2016). Dramaturgi Kepemimpinan Bupati Sampang. Thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya. (tersedia di http://digilib.uinsby.ac.id/8700/)
Suneki, S & Haryono. (2012). Paradigma Teori Dramaturgi Terhadap Kehidupan Sosial. Jurnal Ilmiah CIVIS, 2(2).

Komentar
Posting Komentar